Oleh Meyori Anastasya Ginting |
Bila kita
perhatikan dengan seksama maka kita akan melihat kenyataan di mana banyak
toko-toko kaset dan cd kecil yang dulu jumlahnya banyak dan ada di mana-mana
kini semakin menghilang berganti dengan penjual dvd, vcd, cd audio dan cd mp3
bajakan.
Jaman memang telah
berubah dan kini para produser dan musisi pun harus rela kehilangan penghasilan
dari penjualan kopi lagu dalam berbagai bentuk baik kaset, cd, dan lain-lain.
Kini para musisi mengandalkan penghasilannya dari manggung, jual ringtone, jual
ringbacktone, royalti lagu, jadi bintang iklan, jual merchandise, dan lain
sebagainya.
Dari kenyataan
tersebut maka sudah sepantasnya kita untuk tidak lagi seenaknya menikmati hasil
karya orang lain namun melanggar hukum karena didapat dari hasil perbuatan
melanggar hukum. Sebenarnya beli kaset, cd dan download lagu bajakan itu tidak
boleh.
Sebaiknya mulai
ubah kebiasaan buruk kita dengan mendengar lagu bajakan hanya untuk menilai
saja dan jika lagunya bagus kita harus beli kaset atau cd asli. Dengan begitu
tidak ada lagi pihak yang dirugikan, di mana konsumen tidak membeli kucing
dalam karung dan produser serta musikus tidak dirugikan dari pembajakan.
Seperti Bogor, IPB, Bara dan sekitarnnya. belakangan
ini, bara dan sekitarnya mendapat warna baru dari persaingan bisnis denga pasar
utama adalah mahasiswa. Pemandangan baru tersebut adalah para pedagang VCD dan
DVD bajakan yang semakin ramai menghiasi Bara (Babakan Raya) dan sekitarnya.
tentu saja pedagangnya bukanlah mahasiswa. tapi bagaimana dengan komsumennya?
Tidak
kurang dari 5 toko VCD dan DVD bajakan telah bebas dan terbuka menjajakan
barang dagangannya. CD dan DVD tersebut adalah Film-film, musik dan lagu, serta
software bajakan. hampir semua kebutuhan dan keinginan konsumen disediakan.
Memang
di INDONESIA hal tersebut wajar-wajar saja, karena mungkin sudah menjadi sebuah
kebudayaan mendapatkan sesuatu aapun caranya. namun yang menyebabkan itu
menjadi kurang wajar adalah posisi dan
konsumen perdagangan itu adalah
mahasiswa. kaum yang sekian lama dipercaya memiliki tingkat intelektual tinggi. Lahirnya
Toko VCD Bajakan tentu saja mengikuti tingkat permintaan konsumen. Jadi
berkurang trehadap CD/VCD asli. Sehingga merugikan para produser.
Dahulu, pembajak
dikonotasikan sebagai penjahat yang berbadan kekar, menggunakan tutup mata
sebelah dan salah satu tangannya menggunakan kait besi yang berfungsi sebagai
pengganti fungsi tangan. Yang melakukan aktifitasnya atau kejahatan di tengah
samudra dengan merampok kapal-kapal yang melintasi daerah-daerah perairan yang
sering dilalui.
Sekarang
konotasi yang berkaitan dengan pembajak berbeda, kita tidak dapat memprediksi
bagaimana sosok pembajak saat ini, karena mereka sekarang melakukan kejahatan
tidak dengan cara terang-terangan melainkan dengan cara tersembunyi dan tidak
perIu mengandalkan otot. Daerahl lokasi yang menjadi tempat kegiatannya pun
tidak berada di tengah samudra melainkan dimana saja dengan menggunakan
peralatan penggandaan yang canggih dan tidak memakan tempat yang luas untuk
melakukan kegiatan mereka.
Barang yang
mereka rampas pun bukan berupa uang ataupun perhiasan. Sasaran pembajak saat
ini adalah hasil karya seni maupun karya intelektual seseorang dengan cara
menggandakan karya tersebut tanpa seizin pemiliknya. Hasilnya dapat kita jumpai
berupa CD, VCD dan MP3.
Maraknya
penjualan CD, VCD bajakan sangat susah untuk ditanggulangi. Kenyataan ini tidak
dapat kita pungkiri bahwa hampir 80% pedagang kaki lima menjual CD dan VCD
merupakan hasil bajakan. Tidak jarang pula pedagang menjual seluruh dagangannya
merupakan kepingan CD dan VCD bajakan. Walaupun apatur negara telah banyak
melakukan kegiatan pemberantasa CD dan VCD bajakan, baik pada pedagang maupun
pengusahanya namun kegiatan yang dilakukan oleh aparatur Negara tidak
menampakkan hasil yang menggembirakan. Kenyataannya peredaran CD dan VCD
bajakan makin menjamur.
Hukum yang mengatur hak cipta,dan juga pembajakan:
Di
dalam sistem hak cipta, pencipta diberi jaminan bahwa karya mereka dapat
disebarluaskan tanpa takut ditiru secara
ilegal atau dibajak. Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia,
beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (pasal
14–18).Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila
sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas.
Menurut
UU No.19 Tahun 2002 pasal 13, tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka
lembaga-lembaga Negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau
pidato pejabat Pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim, ataupun
keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya
keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa).Pasal 14 Undang-undang Hak
Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu
kebangsaan menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta.
Undang-undang
Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan atau
mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan
umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang penyebaran
ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan,
ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau
bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norma
kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal
17)[2]. ketika orang mengambil hak cipta seseorang maka orang tersebut akan
mendapat hukuman yang sesuai pada kejahatan yang di lakukan
Daftar Pustaka
- http://organisasi.org/toko-kaset-dan-cd-audio-orisinal-asli-semakin-langka-akibat-pembajakan-haki
- http://bloggeripb.org/2009/12/penjual-cd-bajakan-makin-marak-di-area-kampus/
- http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=38870&idc=21
- http://www.djpp.depkumham.go.id/component/content/article/64-rancangan-undang-undang/2112-rancangan-undang-undang-tentang-hak-cipta.html
0 comments:
Post a Comment